ARTIKEL AKUNTANSI DAN MANAJEMEN ORGANISASI SEKTOR PUBLIK
Blog ini kami buat untuk menjadi wahana sharing informasi segala hal yang terkait dengan manajemen dan akuntansi pada organisasi sektor publik
Selasa, 27 September 2011
Senin, 07 Maret 2011
PERAN OTONOMI DAERAH UNTUK MENINGKATKAN FUNGSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SEBAGAI INSTRUMEN MANAJEMEN DALAM KEBIJAKAN ALOKASI BELANJA PELAYANAN PUBLIK
Minggu, 09 Mei 2010
Analisis Aspek Sistem dan Aspek Personil dalam Dukungannya pada Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
Adyuta Herfianto, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Suryo Pratolo, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Abstrak
Penelitian ini menguji faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan sistem pengukuran kinerja, penggunaan informasi kinerja, dan akuntabilitas kinerja pemerintah daerah. Pengujian dilakukan menggunakan analisis jalur, menghasilkan temuan-temuan bahwa aspek sistem berupa keterbatasan sistem informasi, kesulitan menentukan ukuran kinerja, budaya organisasi dan aspek personil berupa komitmen manajemen, otoritas pengambilan keputusan, pelatihan memiliki pengaruh terhadap pengembangan sistem pengukuran kinerja, penggunaan informasi kinerja, dan akuntabilitas kinerja.....
Analisis Keterjadian Flypaper Effect pada Pemerintahan Daerah di Indonesia: Perbandingan antara daerah agraris dan non agraris menggunakan Uji Chow
Mega Pertiwi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Suryo Pratolo, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji flypaper effect di pemerintah daerah di Indonesia dengan membandingkan antara daerah agraris dan non agraris. Daerah agraris direpresentasikan dengan daerah kabupaten sedangkan daerah non agraris direpresentasikan dengan kota. Hasil penelitian menggunakan analisis regresi menunjukkan bahwa DAU dan PAD mempengaruhi belanja daerah pada lag 1 tahun. Hasil uji flypaper effect menunjukkan bahwa pengaruh DAU tahun t-1 lebih besar dibandingkan dengan pengaruh PAD t-1 pada belanja daerah tahun t yang menunjukkan keterjadian flypaper effect di pemerintahan daerah di Indonesia. Pengujian perbandingan flypapaer effect antara daerah agraris dan non agraris menunjukkan bahwa keterjadian flypaper effect lebih cenderung terjadi di daerah non agraris dibandingkan dengan daerah agraris.....
Kata kunci: Flypaper effect, agraris, non agraris, DAU, PAD, belanja daerah
Jumat, 07 Mei 2010
Tingkat Pemahaman Masyarakat Mengenai Laporan Keuangan dan Pemerikasaan Keuangan, dan Hubungannya dengan Kepuasan dan Partisipiasi Masyarakat
ABSTRACT
This research aim to examine the relationship of society knowledge about APBD, participate effectiveness in compilation of budgetary and satisfaction of performance budgetary implementation. This research is motivated by performance budgeting system regulation.
Eksogen variable in this research is budgeting knowledge, while effectiveness participates and satisfaction of performance budgeting implementation represent endogen variables. The data in this research consist of primarily taken from questionnaires spread about 180 ones and the technical sampling by using judgment sampling. Hypothesis of this research are examine by using the path analysis that develop from regression model.
The result in this research shows that lower participate effectiveness is caused by lowering understanding of society about budgetary. Satisfaction of performance budgetary implementation variable isn’t influenced by understanding of budgetary and participate effectiveness. The other alternative endogen variables are prosperity, good service and development equality.
Keyword: Budgeting Knowledge, participate effectiveness, judgment sampling and performance budgeting implementation
Senin, 11 Mei 2009
Mengelola Uang Organisasi secara Amanah
Ada orang yang mendapatkan amanah untuk mengelola uang. Dalam mengelola uang orang banyak, aspek keamanahan dan kehati-hatian menjadi hal yang utama, sebab pengelolaan uang yang tidak hati-hati rentan akan risiko fitnah. Hal tersebut sangat erat dengan sifat-sifat uang: sangat dibutuhkan, mudah berubah, mudah digelapkan, ringan, tidak menunjukkan kepemilikan, dll.
Bagaimanakah supaya kita bisa amanah dalam mengelola uang? Perlu kita ketahui bersama bahwa apabila meminjam istilah akuntansi, keamanahan seseorang dapat dibedakan menjadi 2 hal: Kemanahan senyatanya dan Keamanahan secara penampilan. Keamanahan “senyatanya” sangat erat dengan kejujuran seseorang, dimana jujur bermakna keselarasan antara informasi dengan kenyataan yang ada. Jadi, kalau suatu informasi sesuai dengan keadaan yang ada, maka seseorang dikatakan jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran menjadi modal bagi kita untuk dapat mengelola uang secara amanah dan menghindarkan kita dari fitnah.
Pada kenyataannya, keamanahan secara senyatanya kadang tidak cukup bagi kita untuk dapat mengelola uang secara baik. Mungkin pernah terjadi di lingkungan kita bahwa seseorang yang dianggap jujur ternyata karena terlalu jujurnya sehingga justru terjebak dalam fitnah pengelolaan uang yang tidak amanah karena mungkin terlalu percaya kepada orang lain dengan asumsi semua orang bisa jujur seperti dirinya. Untuk melengkapinya, diperlukan aspek keamanahan yang satunya lagi yaitu keamanahan dalam penampilan.
Dalam hal keamanahan dalam penampilan, akuntansi mencoba membangun keamanahan pada sisi penampilan dengan melalui sistem pengendalian intern. Dalam hal pengendalian internal pengelolaan uang, sebenarnya sejak zaman belanda di Indonesia sudah diperkenalkan, yaitu bahwa dalam mengelola keuangan hendaklah diperhatikan adanya 3 pilar independen, yaitu pihak otorisator, ordonator, dan komptabel. Apabila ketiga pilar pengelolaan keuangan tersebut bergabung atau terkoneksi maka jelas secara penampilan tidak amanah.
Korupsi secara sederhana sebenarnya sangat mudah dicegah dengan prinsip tersebut, namun mengapa korupsi di Indonesia masih cukup sulit dihilangkan?? Salah satunya adalah dilanggarnya prinsip spi tersebut dimana otorisator, ordonator, dan komptabel dibentuk namun ketiganya berkonspirasi. Itulah yang disebut korupsi yang kolutif, suatu budaya kita.
Marilah kita laksanakan apapun tugas kita secara amanah dalam senyatanya dan dalam penampilan kita
Jumat, 06 Maret 2009
PENGELOLAAN KEUANGAN PERGURUAN TINGGI
Pengelolaan Keuangan Perguruan Tinggi
Perguruan Tinggi merupakan salah satu bentuk organisasi sektor publik yang bergerak pada bidang jasa dimana pada pengelolaan keuangannya memiliki ciri sebagai berikut:
Anggaran merupakan instrumen strategis dan instrumen keuangan yang cukup dominan
Laporan keuangan (apabila diperlukan) biasanya dalam bentuk: Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Surplus dan Defisit, Neraca, Laporan Arus Kas
Kebutuhan pengelolaan keuangannya mengarah pada pencapaian target mutu pendidikan yang ditentukan lembaga akreditasi nasional.
Dalam rangka untuk memenuhi hal-hal di atas pengelolaan perguruan tinggi perlu dirumuskan sebagai berikut:
Ruang lingkup pengelolaan perguruan tinggi meliputi: Perencanaan, Penganggaran, Penatausahaan Keuangan, Pelaporan, dan Pertanggungjawaban. Masing-masing tahapan di atas akan menghasilkan output untuk tahapan berikutnya
Untuk dapat melaksanakan pengelolaan keuangan perguruan tinggi dalam rangka mencapai perwujudan mutu secara transparan dan akuntabel, terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan untu setiap tahapannya sebagai berikut:
Tahapan perencanaan. Dapat dipilih disain perencanaan yang bersifat gabungan antara top dowd dan bottom up
Tahapan penganggaran. Dapat digunakan anggaran dengan disain penganggaran berbasis kinerja
Untuk penatausahaan. Dapat digunakan penatausahaan dengan disain one up level yang memasukkan unsur SPI
Tahapan Pelaporan. Dapat digunakan disain akuntansi yang bersifat budgetary accounting
Untuk pertanggungjawaban. Dapat menggunakan disain pertanggungjawaban keuangan dengan memasukkan unsur pengendalian manajemen.
Secara lebih khusus, berikut ini kami bahas agak mendalam mengenai aspek penganggaran dan akuntansinya.
Penganggaran
Anggaran yang dapat digunakan untuk mendukung pencapaian mutu salah satunya adalah anggaran berbasis kinerja. Anggaran berbaisis kinerja merupakan anggaran yang tidak hanya mementingkan alokasi input kepada pusat pertanggungjawaban, namun juga mengutamakan pencapaian output, bahkan outcome.
Integrasi Penganggaran dan Akuntansi
Selain anggaran berbasis kinerja perguruan tinggi, untuk dapat mengintegrasikan antara penganggaran dan akuntansi diperlukan dua jenis pengkodean, yaitu kode rekening dank ode mata anggaran. Untuk dapat mengintegrasikan penjaminan mutu perguruan tinggi maka diperlukan kode digit butir mutu pada kode mata anggaran. Untuk dapat melakukan pengendalian belanja, pada kode rekening perlu ditambahkan kode komponen kos